Manfaat Asam Amino Yang Terkandung Dalam Susu

Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, M.P.H, mengatakan, sumber utama protein hewani yang baik bisa didapat antara lain dari susu, telur, ikan, dan lain-lain.

“Fungsi protein hewani sangat signifikan terutama dalam tumbuh kembang anak, karena sebagai zat penyusun dan pembangun sel-sel yang menyusun organ tubuh,” kata dia dalam kegiatan beberapa waktu lalu.

Prof Fika menyebutkan, protein hewani penting, lantaran asam amino esensialnya lebih lengkap yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh kembang.

Protein hewani berasal dari hewan yang memiliki kualitas protein lebih baik, karena ada asma amino esensial.

Jadi, protein itu ada senyawa kimia yang terdiri dari asam-asam amino, fungsinya untuk pertumbuhan, membangun dan mengatur.

“Tubuh memerlukan 20 jenis asam amino, sembilan di antaranya asam amino esessial, yang didapat dari makanan yang mengandung protein hewani. Sisanya bisa dapat dari tubuh sendiri. Cara kerja asam amino esensial itu mendukung hormonal, termasuk hormon pertumbuhan,” ungkapnya.

Susu misalnya, kandungan gizi pada susu lebih lengkap dibanding telur maupun ikan.

Keunggulan lainnya, susu banyak difortifikasi dengan zat gizi yang tidak ada atau kurang misalnya fe (zat besi).

Baca juga :  Cara Terbaik Mengatasi Flu Pada Anak - Anak Saat Musim Hujan Tiba

Pada ASI, fe tidak banyak, tapi mudah diserap dan cukup.

Tapi pada susu oleh produsen difortifikasi, foritifikasi lain pada susu seperti vitamin A, D, fe, maka menjadikan kandungan gizi susu cukup lengkap.

Selain juga itu praktis, dan susu bisa diminum tanpa atau dengan makanan pendamping apapun dan kapanpun.

Karena beragam gizi yang terdapat di dalam susu, sehingga bisa memenuhi semua kebutuhan gizi di segala usia sejak bayi baru lahir, masa kanak-kanak, dewasa, hingga lansia.

Kontribusi susu pada setiap fase kehidupan adalah pada masa kanak–kanak, kebutuhan gizi ini yang sejak lahir fungsinya sudah dipakai untuk kunci tumbuh kembang.

Memasuki usia pra dan dewasa, ada kalsium dalam susu yang dibutuhkan orang dewasa untuk mencegah osteoporosis.

Selain itu, susu juga mendukung daya tahan tubuh yang sangat dibutuhkan untuk membantu mencegah terjadinya infeksi.

“Jadi dari bayi lahir usia dini, dewasa, hingga lansia, pasti semua butuh susu karena kebutuhan gizi lengkap ada dalam susu, bisa difortifikasi,” ujar Prof Fika.

Baca juga :  Gejala Dan Ciri-ciri Virus Hendra, Ini Penjelasan Kenapa Manusia Bisa Terinfeksi Virus Hendra

Hal senada diungkapkan oleh dokter Anak dari RS Mayapada, Jakarta, dr. Kurniawan Satria Denta M.Sc. SpA, protein menjadi salah satu makronutrien yang tidak bisa absen dari makanan sehari-hari.

Protein termasuk dalam 4 komponen penting zat gizi, yaitu karbohidrat, protein, lemak, dan ditambah mikronutrien vitamin dan mineral.

“Jadi protein harus selalu ada di makanan utama,” tambah dia.

MPASI tidak bisa menu tunggal, misalnya hanya diberikan sayur atau buah saja. Tetap harus menu lengkap dengan tekstur yang disesuaikan usia anak.

Oleh karena itu, ada makanan pendamping ASI yang sudah difortifikasi dengan kandungan gizi lebih lengkap.

Jika dibandingkan anak yang mengonsumsi susu dan protein hewani, dengan anak yang tidak mengonsumsi susu dan protein hewani lainnya, risiko terkena stunting memang cukup besar bagi yang tidak atau kekurangan protein hewani dan susu.

Sesuai rekomendasi WHO maupun IDAI, dr Denta mengingatkan, usia 6 bulan pertama anak hanya harus mendapatkan ASI tanpa makanan tambahan lainnya.

Baca juga :  Obesitas Dapat Mempercepat Proses Penuaan

Memasuki setelah usia 6 bulan adalah waktu yang tepat untuk kemudian mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) seperti memperkenalkan protein hewani maupun nabati.

Namun harus diingat bahwa prinsip pemberian MPASI adalah makanan dengan gizi lengkap dan seimbang.

Jadi harus mengandung semua jenis zat gizi dari juga karbohidrat, lemak dan vitamin serta mineral.

Ada sejumlah efek buruk ketika tubuh kekurangan asupan protein hewani, di antaranya tubuh akan kekurangan hormon pertumbuhan, gangguan regenerasi sel, sel tidak tumbuh dengan baik, belum lagi sistem kekebalan tubuh terganggu, jadi sering sakit, massa otot tidak bertambah.

“Itulah sebabnya susah berkembang atau bertumbuh kalau kekurangan protein hewani. Pada akhirnya berujung stunting dan terburuknya adalah gangguan kognitif,” ungkap Prof Fika.