Waspadai Kandungan Tar, Tembakau Sangat Berbahaya Bagi Perokok Pasif

Kebiasaan mengonsumsi tembakau atau merokok memberikan dampak negatif yang buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang.

Terdapat lebih dari 16 penyakit utama pada perokok yang dapat merusak kualitas hidup manusia.

Misalnya, kerusakan atau gangguan paru-paru, penyakit jantung, kanker, rusaknya sistem reproduksi pada wanita, hingga kerusakan organ pada mulut dan tulang. Semua penyakit ini mengintai dan bisa mengancam nyawa.

Dokter Spesialis Paru dari Siloam Hospitals Dhirga Surya di kota Medan, dr Rudy Irawan Sp. P(K)., mengatakan pada asap rokok terdapat zat yang paling membahayakan, yakni TAR yang dihasilkan dari proses pembakaran zat kimia dan partikel padat (solid carbon) yang hanya dihasilkan saat rokok dibakar.

Menurutnya, terdapat lebih dari 7.000 macam senyawa kimia dalam TAR, sebagian di antaranya berbahaya terhadap kesehatan.

Selain itu, setidaknya ada 250 zat di dalam batang rokok yang berbahaya, dan 69 jenis di antaranya diketahui bersifat karsinogenik, yaitu dapat menyebabkan kanker.

“Berdasarkan laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (Seatca) berjudul The Tobacco Control Atlas tahun 2019, jumlah perokok di Indonesia sebanyak 65,19 juta orang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asia Tenggara,” ujar dr Rudy Irawan dalam bincang live di Instagram bertajuk ‘Memperingati Hari Tembakau Dunia’ baru-baru ini.

Baca juga :  Manfaat Olahraga Di Malam Hari, Atasi Ketegangan Tubuh Hingga Meningkatkan Kualitas Tidur

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, jumlah perokok di atas 15 tahun sebanyak 33,8 persen dari jumlah tersebut 62,9 persen merupakan perokok laki-laki dan 4,8 persen perokok perempuan.

“Dari data tersebut dan dampak merokok aktif sama bahayanya dengan yang terpapar atau disebut perokok pasif. Ditemukan bahwasannya resiko terpapar penyakit atau gangguan kesehatan bagi perokok aktif maupun pasif adalah sama, satu banding satu”, ungkap Rudy Irawan, pada sesi edukasi, Jumat, 10 Juni 2022 yang lalu.

Dokter Rudy yang sehari-hari berpraktek tetap di Siloam Hospitals Surya Dhirga Kota Medan ini juga menjelaskan, gangguan kesehatan yang sangat mungkin timbul bagi perokok aktif dan pasif adalah gangguan pernapasan, kanker paru, penyakit jantung kronis, stroke karena penyempitan pembuluh darah otak dan lain sebagainya.

Dokter Rudy Irawan Sp.P(K)., juga kembali mmengingatkan, hal penting bagi masyarakat yang ingin sekali berhenti merokok adalah menciptakan kondisi lingkungan yang sehat dengan memulainya dari niat dan berkonsultasi kepada dokter.

Baca juga :  Perbedaan Demam Pada DBD Dan Covid-19, Perhatikan Pola, Siklus Dan Ciri Khasnya

“Selain hal itu adalah menghindari stres, berolahraga rutin dan pola makan serta pola istirahat yang baik bagi tubuh sekaligus berdoa kepada Yang Maha Kuasa”, pungkas Rudy Irawan.

Seputar Merokok Tembakau

Konsumsi tembakau dengan merokok di Indonesia dimulai pada jaman kolonial Belanda tahun 1800 yang ditandai dengan, dibukanya lahan perkebunan tembakau di beberapa daerah.

Kebiasaan merokok yang hanya berawal dari coba coba menjadi kebiasaan dan kebutuhan, berbahaya karena paling tidak ada 70.000 zat addictive pada sebatang rokok yang amat berbahaya bagi kesehatan.

Perokok aktif pada hakekatnya menghisap 2 jenis zat utama. Yaitu asap pembakaran dari tar dan nikotin. Keduanya berbahaya, dan “asap sampingan” yang paling berbahaya karena selain bisa terhirup manusia juga dapat ‘hinggap’ di mana saja seperti baju, lengan dan lain-lain.

Adakah yang positif dengan merokok? Menurut dr Rudy Irawan Sp. P(K)., dalam edukasinya menjelaskan bahwasanya positif merokok hanya sejumlah 0,000001 persen.

Baca juga :  Cara Merawat Kesehatan Kulit Untuk Usia 25 Tahun Ke Atas

Yaitu timbulnya efek relaksasi (perasaan tenang yang semu) pada saat menghisapnya, namun pada dasarnya hal tersebut merupakan pemenuhan kecanduan nikotin yang sudah ada dan terus mengirimkan “signal terpenuhi” dalam tubuh perokok.

Menurutnya, budaya merokok harus diubah untuk mengurangi dampak negatif dari rokok dan mengutamakan kemaslahatan masyarakat.

Jika dilihat dari karakteristik dan perilakunya, upaya untuk mengatasi masalah rokok di Indonesia harus dilakukan berbagai pendekatan (pendekatan holistik) secara budaya, kesehatan, ekonomi, regulasi dan komunikasi.

Pendekatan holistik ini diperlukan agar dalam penanganannya, dapat dipetakan bagaimana aspek tradisi dan budaya merokok mempengaruhi gaya hidup seseorang.

“Upaya mengatasi permasalahan merokok harus melibatkan semua pemangku kepentingan terkait, mulai dari pemerintah, masyarakat, praktisi kesehatan, akademisi, pelaku industri dan juga para perokok itu sendiri,” ungkapnya.