Ibu Hamil Yang Terinfeksi Monkeypox Disarankan Untuk Operasi Caesar

Ibu hamil yang terinfeksi virus cacar monyet (Monkeypox) disarankan melahirkan melalui operasi Caesar untuk menghindari kondisi bayinya terinfeksi penyakit serupa saat proses melahirkan.

Hal ini didasarkan pada sebuah makalah baru di Ultrasound in Obstetrics & Gynecology.

“Kendati demikian, risiko infeksi Monkeypox tetap tergolong rendah untuk masyarakat umum, meskipun kasus terus berkembang di seluruh dunia, terutama di Inggris,” kata para penulis.

Sementara itu, salah satu Penulis dan Presiden Royal College of Obstetricians and Gynecologists, Edward Morris mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa para peneliti menyadari bahwa bayi dan anak-anak berisiko lebih besar mengalami sakit parah jika mereka terkena Monkeypox.

“Oleh karena itu, untuk meminimalkan risiko bayi tertular virus, kami menyarankan profesional kesehatan mendiskusikan manfaat dan risiko melahirkan secara caesar dengan ibu hamil atau orang yang pernah atau diduga terinfeksi virus tersebut,” tegas Morris.

Ia dan rekannya kemudian mengumpulkan bukti yang ada tentang diagnosis Monkeypox, pengobatan dan cara melahirkan yang direkomendasikan untuk ibu dan bayi.

Baca juga :  Tips Aman Membeli Daging Sapi, Pilih Yang Digantung

“Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan mungkin ada konsekuensi buruk bagi wanita hamil dan bayi jika mereka terinfeksi, termasuk Monkeypox bawaan, keguguran, atau lahir mati. Itulah sebabnya kami telah memberikan panduan yang jelas bagi para profesional kesehatan dalam makalah ini,” kata Morris.

Dikutip dari laman webmd.com, Jumat (10/6/2022), virus Monkeypox biasanya menyebar melalui kontak langsung, tetesan, atau permukaan dan benda yang terkontaminasi. Namun beberapa bukti terbatas menunjukkan bahwa virus tersebut dapat ditularkan dari ibu ke bayi melalui plasenta.

Kondisi ini tentu dapat berpotensi menyebabkan bayi mengalami Monkeypox bawaan.

Terlebih lagi, ibu mungkin dapat menularkan virus itu selama atau setelah melahirkan.

Meskipun tidak ada bukti tentang cara persalinan yang optimal, seorang wanita hamil yang terinfeksi Monkeypox aktif dapat memilih untuk menghindari persalinan pervaginam untuk mengurangi kontak langsung.

“Jika lesi genital diidentifikasi pada wanita hamil, maka kelahiran caesar akan direkomendasikan. Jika seorang wanita hamil dicurigai atau dikonfirmasi Monkeypox, maka kelahiran caesar juga akan ditawarkan setelah diskusi tentang kemungkinan risiko infeksi neonatal, yang mungkin serius,” jelas para penulis.

Baca juga :  Manfaat Buah Jamblang Atau Java Plum: Bisa Kontrol Gula Darah Hingga Turunkan Berat Badan

Setelah melahirkan, kontak erat juga dapat menyebarkan virus.

Oleh karena itu, untuk meminimalkan risiko, penulis merekomendasikan untuk mengisolasi bayi dari anggota keluarga yang telah dikonfirmasi atau diduga terinfeksi Monkeypox dan secara hati-hati memantau infeksinya.

“Ibu yang menderita kasus infeksi Monkeypox aktif juga harus menghindari menyusui untuk menurunkan risiko penyebaran virus ke bayi mereka yang baru lahir,” papar para penulis.

Umtuk mendukung upaya menyusui setelah infeksi, ibu dapat memeras dan membuang Air Susu Ibu (ASI) sampai masa isolasi berlalu.

“Wanita hamil yang terinfeksi juga dapat mempertimbangkan untuk divaksinasi. Vaksinasi hingga 14 hari setelah terpapar tidak mencegah penyakit, namun dapat mengurangi tingkat keparahan gejala,” tutur para penulis.

Dalam wabah saat ini, organisasi kesehatan masyarakat menyarankan para dokter untuk melakukan vaksinasi pada mereka yang kontak dengan kasus yang dikonfirmasi, termasuk orang hamil.

Baca juga :  Olahraga Dan Diet Yang Disarankan Bagi Pasien Gagal Jantung

“Data penggunaan vaksin Monkeypox pada wanita hamil masih tergolong kecil, termasuk kurang dari 300 wanita. Dalam penelitian sebelumnya, tidak ada hasil yang merugikan ditemukan, vaksin ini juga dianggap aman untuk ibu menyusui,” jelas para penulis.

Sementara itu, terkait keputusan apakah mendapatkan vaksin pada masa kehamilan harus menjadi pilihan pribadi, para penulis menekankan bahwa wanita hamil dan orang-orang harus didorong untuk mendiskusikan risiko serta manfaat vaksinasi.

“Termasuk kemungkinan efek samping, bicarakan dengan profesional kesehatan sebelum membuat keputusan akhir,” pungkas para penulis.