Cermati Pertumbuhan Anak, Normal Atau Ada Gangguan? Terapi Ini Bisa Mendeteksi

Banyak orang tua yang merasa khawatir tumbuh kembang anak mereka tidak berlangsung secara optimal di masa-masa krusial pertumbuhannya.

Sebagian besar dari mereka bahkan tidak memahami apa saja tanda gangguan pertumbuhan yang dialami sang anak dan apa yang harus mereka lakukan.

Dalam menangani kondisi gangguan pertumbuhan ini, sebenarnya di kalangan medis, ada metode terapi hormon pertumbuhan atau Growth Hormone (GH) yang digunakan.

Dikutip dari laman www.gosh.nhs.uk, Senin (6/6/2022), Growth Hormone bertanggung jawab untuk melepaskan hormon lain dan bersifat sebagai pembawa pesan kimia, misalnya memberitahu hati untuk mempoduksi Insulin like Growth Factor 1 (IGF 1) yang penting untuk pertumbuhan di masa kanak-kanak.

Growth Hormone diproduksi oleh kelenjar pituitari yang terletak jauh di dalam otak, sedangkan instruksi untuk memproduksi Growth Hormone ini berasal dari bagian tubuh yang lain, misalnya Hipotalamus.

Jika ada masalah dengan Hipotalamus, Hipofisis atau hubungan antara keduanya, pelepasan Growth Hormone pun akan terpengaruh, ini yang kemudian menyebabkan defisiensi Growth Hormone.

Baca juga :  Peran Penting Keluarga Dalam Pembentukan Komunikasi Dan Harmoni Sosial Menurut Psikolog

Lalu kapan orang tua harus melakukan pemeriksaan Growth Hormone pada anak?

Dokter Spesialis Anak dan Konsultan di Brawijaya Hospital, dr. Frida Soesanti, Sp.A(K)., mengatakan bahwa semakin cepat anak itu melakukan pemeriksaan terkait pertumbuhannya yang mengacu pada tinggi atau pendeknya tubuh, maka akan semakin baik hasil terapinya.

Oleh karena itu, ia pun menyarankan agar para orang tua melakukan deteksi dini terhadap anak mereka.

“Jadi sebenarnya untuk deteksi kelainan pertumbuhan untuk perawakan pendek pada anak itu adalah makin cepat makin bagus,” ujar dr. Frida, dalam webinar bertajuk ‘Indikasi Terapi Growth Hormone pada Anak dan Remaja’, Minggu (5/6/2022).

Ia pun menjelaskan perbandingan dua pasiennya yang memiliki usia 5 tahun dan 10 tahun, keduanya melakukan terapi Growth Hormone secara rutin dan berkelanjutan.

Namun hasil terapi yang diperoleh, kata dia, jauh lebih optimal anak yang berusia 5 tahun.

Baca juga :  3 Jenis Olahraga Untuk Mengecilkan Perut Dan Caranya, Lakukan Di Rumah

“Kalau kita bandingkan pasien yang saya terapi pada usia 10 tahun dengan pasien yang saya terapi mulai dari 5 tahun, (terapinya) sama-sama continue, maka yang 5 tahun growth-nya akan jauh lebih bagus daripada yang 10 tahun. Jadi untuk deteksi, makin cepat makin bagus,” kata dr. Frida.

Ia kemudian menjelaskan bahwa dalam terapi Growth Hormone, anak masih bisa mengalami pertumbuhan tinggi badan jika lempeng pertumbuhannya masih terbuka, dan ini didasarkan pada usia tulang (bone age), bukan usia kronologisnya.

“Anak itu tumbuh karena lempengnya masih terbuka, lempeng pertumbuhan ini ada yang namanya bone age. Selama lempeng pertumbuhan masih terbuka, maka kita masih bisa tumbuh (tinggi),” papar dr. Frida.

Namun ia menekankan bahwa pendeteksian gangguan pertumbuhan ini hanya bisa dilihat jika mengukur berat dan tinggi badan anak tersebut pada plot dalam kurva pertumbuhan (growth chart).

Kemudian dilihat dari plot tinggi badan potensi genetiknya.

Baca juga :  Saraf Terjepit Yang Dialami Raffi Ahmad Bisa Terjadi Berulang, Berikut Cara Mencegahnya

“Tapi kita hanya bisa mendeteksinya kalau kita ukur berat badan dan tinggi badan di plot dalam kurva, itu yang pertama. Yang kedua, plot tinggi badan potensi genetiknya ya,” tutur dr. Frida.

dr. Frida lalu menyebutkan salah satu pasiennya yang datang pada usia yang tepat yakni 4 tahun.

Pada usia tersebut, tentu terapi yang diberikan akan menghasilkan tinggi badan yang optimal.

“Bahkan kemarin saya ada pasien umur 4 tahun, menurut saya orang tuanya sangat hebat sekali, anaknya pendek, dan itu saya sudah mulai terapi Growth Hormone. Biasanya 4 tahun ke atas sudah bisa mulai deteksi pakai plot kurva,” pungkas dr. Frida.