Work From Home Bisa Picu Risiko Cedera Tulang Belakang , Simak Gejala Dan Cara Mencegahnya

Dosen Departemen Ilmu Bedah, FK-KMK Universitas Gadjah Mada dr. Yudha Mathan Sakti, Sp. OT(K) mengingatkan ada risiko cedera tulang belakang pada orang yang melakukan aktivitas work from home alias WFH.

Yudha memaparkan, secara umum ada lima penyebab cedera tulang belakang, yaitu karena bawaan atau kongenital, infeksi, trauma (seperti jatuh yang mengakitbatkan trauma atau cedera pada tulang belakang yang melibatkan saraf) dan suatu proses kegananasan atau metabolisme.

Selain itu, bekerja dari rumah juga berkontribusi menimbulkan tekanan pada saraf tulang belakang yang lebih tinggi atau disebut dengan HNP atau dikenal dengan istilah ‘saraf terjepit’, yaitu penekanan saraf tulang belakang karena rusaknya bantalan tulang belakang.

“Work from home ini juga bisa menimbulkan cedera pada saraf tulang belakang. HNP atau saraf kejepit meningkat frekuensinya pada orang yang bekerja dalam posisi duduk, dimana kalau kita duduk beban itu tidak didistribusikan ke panggul atau lutut dan kaki.

Baca juga :  Prodia For Doctor, Aplikasi Perujuk Dan Pemantau Pemeriksaan Kesehatan Pasien Yang Praktis

Jadi, 100 persen beban itu diterima tulang belakang, akhirnya bantalannya rusak dan menimbulkan saraf kejepit,” ujar Yudha dalam kegiatan Radio UGM beberapa waktu lalu.

Tulang belakang merupakan struktur yang vital dan kompleks, dimana satu strukturnya berfungsi untuk menjalankan jalur informasi antara alat gerak (kaki dan tangan) dan pusat intruksi (otak).

“Segala sesuatu yang berpotensi untuk menganggu jalannya informasi antara alat gerak dan otak bisa menimbulkan gejala oleh penderita,” tutur Yudha.

Tulang belakang terdiri dr 33 ruas dari pangkal kepala atau daerah leher hingga tulang ekor. Insiden lokasi terjadinya masalah tulang belakang banyak terjadi di daerah yang tidak terlalu stabil atau tidak ada struktur yang memegang dengan baik.

Baca juga :  Amankah Penderita Diabetes Konsumsi Makanan Manis?

“Kalau kita amati saja, yang tidak dipegang dengan stabil pertama itu di leher. Kalau di daerah dada itu yang memegang ada tulang iga, jadi dia relatif stabil dan masalahnya lebih sedikit. Kedua, di daerah pinggang. Ketiga, daerah peralihan, yaitu antara leher dan tulang punggung bagian atas,” jelas dr Yudha.

Gejala Cedera Tulang Belakang

Adapun tanda cedera tulang belakang antara lain nyeri anggota tubuh yang hebat, kelemahan anggota tubuh bagian atas (tangan) dan bagian bawah (kaki), nyeri disertai riwayat trauma (jatuh), nyeri disertai riwayat keganasan (tumor).

“Ketika nyerinya mengganggu dan tidak bisa berkurang dengan istirahat, harus diwaspadai dan segera memeriksakan diri ke fasilitas atau dokter ortopedi terdekat untuk dilakukan assessment bersama,” jelasnya.

Tips Mencegah Cedera Tulang Belakang, Detosifikasi Ponsel

Yudha memberikan tips sederhana untuk menghindari cedera tulang belakang terutama ketika pandemi seperti saat ini.

Baca juga :  Puasa Berdampak Positif Pada Kesehatan Mental Di Masa Pandemi Covid-19

Pertama adalah dengan detoksifikasi handphone. Detoksifikasi bisa dilakukan dengan tidak melihat layer handphone selama dua jam.

Kedua, menggunakan standing table ketika bekerja dari rumah. Ketika duduk semua beban diterima tulang pinggang, namun menggunakan standing table membuat beban didistribusikan ke panggul dan lutut. Selain itu, dapat memperkuat extensor mechanism tulang belakang.

“Ekstensor tulang belakang adalah otot. Jadi, coba latihan otot tulat belakang dengan stretching dan strengthening otot-otot tulang belakang,” tutur Yudha.