Penting! Kenali Berbagai Penanganan Kasus Jantung Kompleks

Pada penanganan penyempitan pembuluh darah koroner, tindakan yang dilakukan untuk membuka penyepitan pembuluh darah adalah dengan menggunakan balon dan dilanjutkan pemasangan stent.

Namun, ternyata ada kondisi di mana sumbatan pembuluh darah tidak bisa dibuka hanya dengan menggunakan balon tetapi membutuhkan alat lain untuk mengikis penyempitan sebelum dilakukan pemasangan stent.

Tindakan Rotational Atherectomy adalah prosedur untuk mengikis plak yang menyempit pada pembuluh darah menggunakan Rotablator.

“Prosedur penggunaan rotablator ini terutama untuk jenis penyempitan dimana balon atau stent konvensional tidak dapat membuka penyempitan. Indikasinya adalah apabila sumbatan mengeras akibat mengalami kalsifikasi, panjang, kaku, sumbatan terletak pada lokasi percabangan besar, dan bersifat kronik. Setelah sumbatan dikikis dengan alat rotablator, selanjutnya stent dapat masuk dan dipasang untuk membuka dan mengembalikan aliran darah normal ke jantung,” ujar dr. Achmad Sunarya Soerianata, Sp.JP(K),FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan.

Selain itu dalam membantu diagnosa dan terapi pada kasus penyempitan pembuluh darah, IVUS atau Ultrasonografi intravaskular dapat digunakan untuk melihat gambaran bagian dalam pembuluh darah.

Baca juga :  10 Penyakit Anak Di Musim Hujan Yang Perlu Diwaspadai Orangtua

IVUS digunakan bersamaan dengan prosedur kateterisasi membantu mendiagnosis penyakit jantung koroner. Informasi dari IVUS sangat membantu dalam menentukan terapi, seperti ukuran stent dan penempatan stent yang tepat.

Namun pada indikasi medis tertentu, tindakan intervensi tidak dapat dilakukan maka terapi pilihan lain adalah bedah pintas arteri koroner/coronary artery bypass graft (CABG) baik secara open surgery maupun minimal invasive surgery.

“Beberapa indikasi medis membuat pasien justru lebih aman dan lebih baik hasilnya untuk jangka panjang jika langsung dilakukan prosedur CABG. Pada intinya prosedur apapun yang dilakukan dalam penanganan penyakit jantung koroner pastinya disesuaikan dengan diagnose dan kondisi pasien,” ujar dr. Achmad Faisal, SpBTKV, Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan.

Tidak hanya kasus penyakit jantung koroner, kasus gangguan irama jantung atau aritmia juga harus mendapat penanganan yang tepat. Aritmia adalah gangguan pada sistem kelistrikan jantung yang mengatur denyut jantung sehingga denyut jantung lebih lambat, lebih cepat, atau tidak beraturan mengakibatkan gangguan supply darah dan dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan organ penting lainnya.

Baca juga :  Self Healing Dianjurkan Untuk Hindari Stres Saat Menstruasi

“Pemasangan pacemaker dan tindakan ablasi jantung merupakan terapi yang dilakukan untuk kasus aritmia dengan tujuan mengembalikan denyut jantung normal. Terapi tergantung pada jenis aritmia yang dialami pasien,” ungkap dr. Pudjo Rahasto, SpJP(K), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan dari Mayapada Hospital Tangerang

Selain berbagai kasus jantung dewasa, penanganan penyakit jantung bawaan pun seringkali membutuhkan perawatan sepanjang hidup mereka dan oleh karena itu memerlukan keahlian dan pemantauan dari dokter spesialis jantung yang khusus menangani jantung anak dan penyakit jantung bawaan.

Pemantauan pun diperlukan mulai dari masa janin, bayi, anak hingga dewasa. Ini karena seseorang dengan penyakit jantung bawaan yang kompleks dapat berkembang menjadi masalah jantung yang lebih serius.

“Penyakit jantung bawaan seringkali membutuhkan penanganan hingga operasi bedah jantung untuk memperbaiki anatomi, fungsi jantung dan kualitas hidup pasien,” kata dr. Poppy S. Roebiono, SpJP(K), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan.

Tak ketinggalan, dr. Bayu Arif Permana, SpJP(K), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Mayapada Hospital Bogor meningatkan pentingnya skrining jantung secara berkala.

Baca juga :  Ketahui Gejala Spesifik Jika Terpapar Penyakit TBC

“Untuk itu perlu ditekankan mengenai pentingnya skrining jantung secara berkala, khususnya bagi Anda yang memiliki faktor risiko, seperti usia lebih dari 40 tahun, memiliki penyakit seperti hipertensi, hiperkolesterol, maupun diabetes, riwayat merokok, obesitas, memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung atau stroke,” ujar dr. Bayu Arif Permana, SpJP(K), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Mayapada Hospital Bogor.

Pemeriksaan yang dilakukan mulai dari EKG untuk melihat irama jantung saat istirahat, treadmill untuk melihat irama jantung saat sedang beraktivitas, echocardiography untuk melihat struktur dan fungsi jantung, hingga CT scan jantung dengan kontras dan tindakan kateterisasi jantung untuk melihat gambaran pembuluh darah dengan lebih detail, sehingga adanya penyempitan ataupun sumbatan pembuluh darah dapat diketahui sejak dini.