Penyebab Gangguan Tidur Dewasa Hingga Anak-anak, Dari Depresi Hingga Obesitas

Gangguan tidur adalah salah satu gejala depresi.

Gangguan tidur yang dialami sebagian orang adalah insomnia dan hipersomnia.

Ketidakmampuan untuk tidur dalam waktu lama dapat menjadi tanda bahwa orang itu mengidap depresi.

Gangguan tidur dapat disebabkan banyak hal yang berasal dari faktor genetik, psikologis, dan lingkungan.

Berikut penyebab gangguan tidur yang menimpa orang dewasa maupun anak-anak:

1. ADHD
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau dalam istilah Indonesia dikenal dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif (GPPH), dapat memicu gangguan tidur pada anak.

ADHD merupakan gangguan perilaku anak berupa hiperaktivitas, impulsivitas, dan responsivitas.

Dalam riset menunjukkan anak dengan gangguan ADHD memiliki potensi lima kali lebih besar terkena gangguan tidur dibandingkan anak pada umumnya.

“Penelitian lain juga menyatakan sekitar 70 persen anak dengan gangguan tidur merupakan penderita ADHD,” kata Dokter Spesialis Anak di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K), MPH dalam webinar beberapa waktu lalu.

Anak penderita ADHD mengalami kesulitan untuk fokus pada satu hal, merasa cepat bosan terhadap suatu aktivitas, memiliki aktivitas fisik yang tinggi sehingga selalu bergerak, serta sulit mengontrol reaksi dan berpikir sebelum bertindak.

Baca juga :  Daftar 21 Penyakit Yang Tidak Ditanggung Oleh BPJS Kesehatan

Akibatnya, anak sulit melakukan aktivitas dengan baik hingga performa belajar pun turun.

Kondisi ADHD dapat membuat anak sulit tidur, karena tidak mampu mengatur waktu tidurnya.

ADHD juga berkaitan dengan neurotransmitter dopamine, yang merupakan penghantar stimulus berupa rangsangan ke sel saraf manusia.

2. Obesitas

Selain ADHD, obesitas juga memiliki kaitan erat dengan gangguan tidur pada anak.

Menurut Spesialis Anak di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Klara Yulianti, SpA(K), obesitas pada anak sering kali dianggap remeh karena anak terlihat lebih lucu dan imut.

Padahal, obesitas mengganggu sistem metabolisme tubuh anak.

Salah satu faktor risiko yang membuat terjadinya obesitas adalah tidak teraturnya pola tidur, misalnya tidur yang tidak cukup atau kurang dari 8 jam per hari. Kekurangan tidur ini berimbas pada terganggunya sistem pencernaan anak.

3. Sakit Kepala

Faktor lain yang berkaitan dengan gangguan tidur adalah sakit kepala.

Kemudian Dokter Spesialis Saraf di Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) – RSCM Dr dr Astri Budikayanti, SpS(K) mengatakan, antara sakit kepala dan sulit tidur tidak dapat disimpulkan mana yang muncul terlebih dahulu.

Baca juga :  6 Jenis Olahraga Yang Aman Untuk Lansia, Mulai Dari Berenang, Yoga Hingga Tenis Meja

Bisa saja sakit kepala yang menyebabkan kesulitan tidur atau sebaliknya, kesulitan tidur yang menyebabkan sakit kepala.

Pernyataan Dr. Astri tersebut diamini Staf Medis Divisi Psikosomatik dan Paliatif Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) – RSCM Dr Rudi Putranto, SpPD, K-Psi, MPH, FINASIM.

Sakit kepala secara fisik dapat dipengaruhi faktor psikologis. Pengaruh psikologi terhadap kondisi fisik disebut psikosomatik. Psikosomatik berpengaruh terhadap pola tidur seseorang.

Mengatasi Gangguan Tidur

Untuk mengatasi gangguan tidur tersebut, Dr. dr. Tirza Tamin, SpKFR (K) dan dr. Rahmanofa Yunizaf, SpTHT-KL (K) memaparkan cara tidur yang baik demi memperoleh kesehatan dan kebugaran tubuh.

Bugar dan segar menurut Dr. Tirza erat kaitannya dengan konsep sehat.

Sehat menurut UU No. 36 Tahun 2009 merupakan kondisi tubuh manusia yang tidak terkena penyakit apa pun, baik secara jasmani maupun psikis.

Adapun bugar merupakan kemampuan seseorang untuk beraktivitas secara energik dan tetap energik pasca beraktivitas. Tubuh yang bugar dan sehat dibentuk dari kebiasaan sehari-hari yang membangun tubuh yang tinggi sehingga selalu bergerak, serta sulit mengontrol reaksi dan berpikir sebelum bertindak

Baca juga :  Kenali Masalah Ngilu Pada Gigi, Jangan Buru-buru Ganti Pasta Gigi

Untuk menghasilkan tubuh yang sehat dan bugar, diperlukan tidur yang cukup secara kuantitatif dan kualitatif.

Menurut dr. Rahmanofa, tidur yang cukup secara kuantitatif adalah cukup jam tidurnya, sedangkan secara kualitatif tidur yang cukup dilakukan dengan posisi tubuh yang baik.

Kualitas tidur ditentukan oleh cara seseorang mempersiapkan tidurnya pada malam hari, seperti kedalaman tidur dan kemudahan untuk tertidur tanpa bantuan medis. Kualitas tidur yang baik dapat memberikan perasaan tenang di pagi hari, perasaan energik, dan tidak mengeluh gangguan tidur.

Memiliki kualitas tidur baik sangat penting dan vital untuk kesehatan semua orang.