Ketahui Kondisi Anak Yang Tidak Disarankan Untuk Berpuasa

Anak-anak masih dalam fase pertumbuhan fisik dan perkembangan otak.

Semua proses ini perlu didukung asupan makanan yang dikonsumsi anak sehari-hari.

Lantas apakah dengan berpuasa perkembangan fisik dan otak anak dapat terganggu?

Menurut Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik, Prof dr Darmayanti Rusli Sjarif Ph D Sp A(K) ada yang harus diperhatikan orangtua saat anak sedang belajar berpuasa.

Langkah awal yang dilakukan adalah melihat kondisi fisik anak.

Baca juga :  Penyebab Gagal Ginjal Di Usia Muda

Jika tubuh anak terlalu kurus, maka disarankan untuk melakukan pengecekan ke dokter.

“Dicek ke dokter, kalau memang gizi kurang, maka tidak boleh. Asupan makanan yang dibutuhkan belum cukup. Jadi tidak boleh puasa dulu,” ungkapnya dalam siaran langsung Instagram IDAI, Senin (4/4/2022).

Kalau pun sudah diwajibkan untuk berpuasa, anak tetap harus diingatkan untuk mengonsumsi makanan yang cukup.

Karena saat berpuasa, setelah beberapa jam usai sahur tubuh mengambil cadangan lemak dalam tubuh sebagai energi.

Baca juga :  Cara Mengatasi Skinny Fat, Kondisi Seseorang Yang Miliki Berat Badan Normal Tapi Kadar Lemak Tinggi

Kalau tidak ada cadangan, maka dapat memengaruhi fisik dan kondisi otak anak.

Bila sudah diukur dan menurut dokter diperbolehkan untuk puasa, maka dr Darmayanti menganjurkan orangtua untuk mengarahkan anak sahur menjelang fajar.

Serta menyegerakan waktu berbuka.

“Kalau jam 12 belum kuat, dibilang ke mama gak masalah. Itu belajar. Kadang gak enak badan itu harus bilang juga. Itu yang musti dijelaskan. Fase belajar, status gizi harus beres dulu,” kata dr Darmayanti.

Baca juga :  Manfaat Donor Darah: Turunkan Risiko Penyakit Jantung Dan Kanker

Apa lagi jika anak memiliki gizi yang kurang atau mendekati gizi buruk.

Maka mencukupi gizi dan nutrisi anak adalah pekerjaan utama bagi orangtua.