Cara Mencegah Dampak Depresi Agar Tidak Parah, Termasuk Menyasar Anak-anak

Berikut cara mencegah dampak depresi agar tidak parah, simak penjelasan lengkapnya.

Depresi merupakan sebuah penyakit yang ditandai dengan rasa sedih yang berkepanjangan dan kehilangan minat terhadap kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan dengan senang hati.

Tanda depresi berikutnya adalah berhenti menjalankan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari setidaknya selama dua minggu.

Para penderita depresi biasanya memiliki beberapa gejala seperti, kehilangan energi, perubahan nafsu makan, gangguan tidur (bisa berlebihan, bisa juga kurang dari lama tidur biasanya), cemas, menurunnya kemampuan berkonsentrasi, ketidakmampuan membuat keputusan, rasa tidak tenang, perasaan tidak berguna, bersalah atau putus asa, dan pikiran-pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.

Pada anak-anak, gejala lain adalah menyendiri, menjauhi teman-temannya, rewel atau mudah marah, sering menangis, sulit berkonsentrasi di sekolah, serta terjadi perubahan dalam nafsu makan atau tidur (bisa menjadi berlebihan atau berkurang).

Sementara itu, anak-anak yang usianya lebih muda bisa kehilangan minat bermain.

Di sisi lain, anak-anak yang lebih besar biasanya melakukan hal beresiko lebih tinggi yang sebelumnya tak berani mereka lakukan.

Sehebat apapun depresinya pasti bisa disembuhkan.

Saraf pada otak bersifat elastis dan tidak akan berubah.

Hal ini menandakan bahwa ketika mengalami depresi berat akan dapat disembuhkan kembali.

Solusi depresi berat dapat dilakukan dengan berpikir positif karena kondisi di luar tubuh manusia tidak bisa dikontrol, tapi di dalam otak dapat dikontrol.

Baca juga :  Pengobatan Inovatif Kanker Bisa Tingkatkan Harapan Hidup Pasien

Berikut cara mencegah dampak depresi agar tidak parah, dikutip dari sehatnegeriku.kemkes.go.id:

1. Apabila Anda merasa depresi

Bicaralah dengan orang yang Anda percaya mengenai perasaan Anda.

Cari bantuan profesional, bisa dimulai dengan ke tenaga kesehatan dan dokter.

Tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga, teman, dan orang sekitar.

Berolahraga secara teratur, biarpun olahraga ringan.

Biasakan untuk tetap makan dan tidur teratur.

Hindari penggunaan alkohol dan narkoba.

Semua itu memperparah depresi.

Tetap lakukan hal-hal yang selalu Anda nikmati, bahkan ketika kehilangan selera untuk melakukannya.

Tetap waspada dengan pikiran-pikiran negatif yang terus muncul serta kritik diri yang berlebihan dan coba gantikan dengan pikiran-pikiran positif.

Beri semangat dan selamat pada diri kita sendiri atas apa yang sudah kita dapatkan.

2. Apabila tinggal bersama orang depresi

Jelaskan pada mereka bahwa Anda mau membantu, mendengarkan tanpa menghakimi dan menawarkan.

Cari tahu lebih banyak tentang depresi.

Dorong teman/keluarga yang depresi untuk mencari bantuan profesional.

Tawarkan padanya untuk menemani menemui tenaga kesehatan.

Bila mereka yang hidup dengan depresi mendapatkan resep, bantu untuk minum obat sesuai dengan anjuran.

Baca juga :  Tes Genetika Berbasis Urine Kini Bisa Ketahui Risiko Anda Terkena Kanker Payudara

Bersabarlah, biasanya membutuhkan waktu beberapa minggu untuk penderita depresi merasa lebih baik.

Anda dapat membantu menjalankan tugas harian dan memastikan teman/keluarga yang mengalami depresi makan dan tidur teratur.

Ajak/dorong untuk berolahraga dan melakukan kegiatan sosial.

Bila teman/keluarga yang mengalami depresi mengutarakan pikiran untuk melukai diri sendiri, jangan tinggalkan sendirian.

Cari bantuan dari layanan darurat atau tenaga kesehatan yang tepat (konselor, psikolog, psikiater).

Sementara itu, amankan benda-benda seperti obat-obatan, benda tajam, dan senjata lain.

Jangan lupa untuk tetap merawat diri Anda dengan baik.

Temukan cara untuk bersantai dan melakukan hal-hal yang Anda nikmati.

3. Apabila anak Anda mengalami depresi

Obrolkan dengan anak tentang kegiatannya dan hal-hal yang terjadi di rumah, sekolah, dan luar sekolah.

Coba cari tahu hal yang mengganggu pikiran/perasaannya.

Bicara dengan orang yang Anda rasa sangat mengenal anak Anda.

Carilah bantuan dari tenaga kesehatan profesional (konsuler, psikolog, psikiater).

Lindungi anak Anda dari tekanan yang terlalu besar bagi usianya, perlakuan yang merusak mental dan kekerasan.

Perhatikan kesehatan fisik, mental, dan keperluan anak Anda terutama saat ada perubahan-perubahan besar dalam hidupnya, misalnya pindah ke sekolah baru atau masa puber.

Upayakan anak untuk cukup tidur, makan teratur, aktif secara fisik, dan melakukan kegiatan yang disukai.

Baca juga :  Apa Itu Buta Warna Parsial? Simak Gejala Dan Penyebabnya

Luangkan cukup waktu dengan anak Anda.

Bila anak memiliki niatan atau malah sudah pernah melukai dirinya, carilah bantuan dari tenaga profesional sesegera mungkin untuk mencegahnya.

4. Apabila depresi pasca melahirkan

Diskusikan perasaan Anda dengan mereka yang dekat dengan Anda, mintalah dukungan mereka.

Mereka mungkin dapat membantu merawat bayi Anda ketika Anda membutuhkan waktu untuk beristirahat atau untuk diri sendiri.

Tetap jaga hubungan dengan keluarga dengan menghabiskan waktu bersama mereka.

Bila mungkin, keluar ruangan untuk menghirup udara segar.

Di lingkungan yang aman, bawa bayi Anda berjalan-jalan.

Hal ini akan memberikan manfaat bagi Anda dan bayi.

Bicaralah dengan ibu-ibu lain yang mungkin dapat memberikan nasihat dan mau berbagi pengalaman.

Bicaralah dengan tenaga kesehatan yang dekat Anda.

Ia dapat membantu Anda mencarikan perawatan yang paling tepat untuk situasi Anda.

Segera cari bantuan, apalagi bila terlintas dalam pikiran Anda untuk melukai diri Anda atau bayi.

(/Katarina Retri)