Merasakan Gejala-Gejala Ini? Bisa Jadi Itu Tanda TBC, Segera Periksakan Ke Laboratorium

Pernah berkeringat dingin di malam hari tanpa aktivitas? Atau nafsu makan drop, berat badan turun, perasaan tidak enak, lemah, demam tidak terlalu tinggi dalam waktu yang lama?

Batuk tidak berhenti lebih dari 2 minggu? Kadang influenza timbul tenggelam? Bila gejala-gelaja itu muncul, sebaiknya waspada, bisa jadi itu gejala awal TBC, Tuberkulosis.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis.

Wajib diketahui, TBC itu penyakit yang mudah menular, melalui media cairan (droplet) dari batuk atau bersin pengidap.

“Untuk memastikan TBC atau bukan, sebaiknya test di laboratorium,” saran CEO Laboratorium Klinik CITO, dr Dyah Anggraeni MKes SPPk dalam keterangannya, dikutip Selasa (29/3/2022).

Gejala lain yang bisa jadi TBC adalah sesak nafas. Suara nafas melemah dan disertai sesak.

Ini terjadi karena sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar.

Bahkan, termasuk jika ada cairan di rongga pleura (pembungkus paru-paru), yang dapat disertai dengan keluhan sakit dada.

Baca juga :  Manfaat Santan Untuk Kesehatan: Bisa Turunkan Berat Badan Hingga Cegah Peradangan

Dia menjelaskan, WHO tahun 2020 mencatat, ada 30 negara yang menyumbang 86% kasus TBC baru.

Delapan negara menyumbang dua per tiga dari total kasus.

Indonesia berada di tiga besar, setelah India dan China. Baru disusul, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh dan Afrika Selatan.

“Itulah, mengapa kita perlu waspada,” jelas Dyah Anggraeni.

Disebutkan, kasus di Indonesia menurut catatan Kemenkes tahun 2021, terdapat 393.323 yang ternotifikasi TB. Sebanyak 33.366 kasus yang terkonfirmasi pada bayi, dan 8.003 kasus tuberkulosis HIV.

Dari angka di atas, disimpulkan bahwa angka kasus TBC di Indonesia terbilang besar bahkan termasuk dalam penambah kasus mayoritas secara global.

“Tanggal 24 Maret adalah Hari Tuberkulosis Sedunia, dan tahun 2022 ini mengangkat tema Invest to End TB. Save Lives,” ujar Dyah yang lulusan Kedokteran UGM Yogyakarta ini.

“Spirit kampanye WHO ini untuk menyampaikan kebutuhan mendesak dalam investasi sumber daya untuk meningkatkan perjuangan dan mengakhiri TBC. Dalam suasana Pandemi Covid-19, tema ini menjadi sangat relevan. Karena memperlambat kemajuan End TB,” katanya.

Baca juga :  Kanker Serviks, Jenis Kanker Yang Paling Bisa Dicegah Sedini Mungkin

Selain itu, menurut Dyah, WHO juga berusaha terus memberi akses yang adil dalam pencegahan dan perawatan sesuai upayanya untuk mencapai Cakupan Kesehatan Universal.

Apa yang harus dilakukan? Seperti halnya Covid-19, pemahaman masyarakat terhadap TBC, bahaya dan penularannya juga harus disosialisasikan dengan baik.

Paling tidak dengan melakukan tindakan preventif dan pencegahan. Termasuk bagaimana pengobatannya dan pemeriksaan tuberculosis baik yang bergejala TBC maupun yang mendekati.

Atas hal itu, kata dia, pihaknya sudah bisa membantu melayani test gejala TBC itu.

“Lab CITO memiliki pemeriksaan TBC yang lengkap, dari foto thorax sebagai pemeriksaan awal, lalu pemeriksaan darah otomatis, dan Tes IGRA untuk mendeteksi TBC pada paru-paru dan organ lainnya seperti tulang belakang dan kelenjar limfa,” jelas Dyah Anggraeni.

CITO, kata dia, juga bisa melayani pemeriksaan MDR TB untuk pasien yang resisten (kebal) terhadap obat yang paling poten (kuat) seperti Rifampisin.

Baca juga :  6 Manfaat Tidur Siang Untuk Tubuh: Dapat Tingkatkan Daya Ingat Hingga Perbaiki Mood

“Pemeriksaan radiologis di CITO sudah menjalankan metode CR (Computed Radiography). Satu sistem atau proses yang mengubah sistem analog pada konvensional radiografi menjadi digital radiografi, dengan menggunakan photostimulable untuk mengakuisisi data dan menampilkan parameter dari gambaran yang dapat diolah menjadi lebih jelas oleh komputer,” kata dia.

Ini merupakan teknologi digital berbasis sistem informasi dan prosessing. Radiograph yang dihasilkan CR akan terformat dalam bentuk digital sehingga dapat dimaksimalkan dengan pemberian penanda dan keterangan pada obyek spesifik yang ditemukan untuk memperjelas interpretasi hasil. (*)