Lebih Berbahaya TBC Atau Covid-19? Simak Penjelasan Dokter Spesialis Paru

TBC memiliki cara penularan, gejala, dan penanggulangan yang mirip dengan Covid-19.

TBC sering disebut paru-paru basah oleh masyarakat awam.

Pakar sekaligus Dokter Spesialis Paru dari Unair Dr Soedarsono dr SpP(K) menuturkan, Covid-19 dan TBC sama-sama punya daya tular yang cukup tinggi.

“Pasien TBC maupun Covid-19, angka pasien tertingginya berada pada usia produktif,” ujarnya dilansir dari laman unair, Kamis (31/3/2022).

Ia menerangkan, Covid-19 merupakan penyakit yang sifatnya akut, sedangkan TBC itu sifatnya kronis.

Hal ini dikarenakan jika melihat angka mortalitas, kematian akibat TBC lebih besar persentasenya.

“Kematian TBC itu sebesar 10,8 persen. Sedangkan Covid-19 hanya 2,6 persen,” kata Dr Soedarsono.

Dr Soedarsono menambahkan, persentase kematian TBC tersebut adalah TBC yang tidak kebal obat. Sedangkan TBC yang kebal obat memiliki persentase kematian 18 persen. Oleh karena itu, baik TBC maupun Covid-19 sama-sama perlu diwaspadai.

Baca juga :  5 Cara Mengurangi Lemak Visceral Yang Berbahaya Untuk Kesehatan

Mengenal TBC Kebal Obat

Dr Soedarsono menyampaikan, TBC kebal obat adalah ketika virus Mycobacterium tuberculosis yang menjadi penyebab penyakit TBC tidak mati meskipun terkena obat.

Ada dua macam penyebab TBC kebal obat terjadi, faktor primer yaitu ketika seseorang tertular dari pengidap TBC kebal obat.

Sedangkan faktor sekunder adalah pengidap TBC yang putus obat ataupun meminum obat secara tidak teratur yang berdampak pada mutasi virus.

Dampak Negatif Covid-19 pada Sektor Penanggulangan TBC

Dr Soedarsono mengungkapkan, adanya Covid-19 berdampak negatif pada penanggulangan TBC di Indonesia.

Seseorang yang merasakan gejala TBC takut pergi ke fasilitas kesehatan karena takut dinyatakan positif Covid-19.

Baca juga :  Bahaya Mata Kering Yang Tak Boleh Diremehkan, Ketahui Solusinya

Pasalnya, gejala kedua penyakit ini mirip dan sanksi sosial yang tinggi. Sehingga memilih mengobati sendiri sakitnya di rumah.

Selain itu, banyak pengidap TBC yang takut kontrol karena takut tertular Covid-19 sehingga putus berobat.

Oleh karena hal itu, temuan TBC di Indonesia berkurang padahal sebenarnya masih banyak.

Pengidap TBC harus mendapatkan pengobatan yang teratur agar tidak memperparah kondisi dan menularkan kepada khalayak yang lebih luas

Dampak Positif Covid-19 pada Sektor Penanggulangan TBC

Meski memberikan dampak negatif, Covid-19 juga memberikan dampak positif bagi sektor penanggulangan TBC.

Dr Soedarsono menjelaskan strategi penanggulangan Covid-19 berupa protokol kesehatan bisa juga diaplikasikan pada strategi penanggulangan TBC.

Baca juga :  9 Obat Medis Dan Obat Herbal Yang Bisa Bantu Pasien Omicron Menjalani Isoman Di Rumah

Meskipun secara teori orang mengidap TBC memiliki kepekaan terpapar Covid-19, faktanya di Surabaya sendiri tidak banyak orang mengidap TBC yang terpapar Covid-19.

Hal ini dimungkinkan karena pengidap TBC sudah terbiasa dengan protokol kesehatan bahkan sebelum Covid-19.

Bagaimana dengan anak-anak?

Anak-anak itu biasanya rentan terkena TBC, tetapi potensi menularnya sedikit.

Hal ini dikarenakan, anak-anak pengidap TBC memiliki jumlah virus yang lebih sedikit dibandingkan dengan orang dewasa sehingga kemampuan menularkan kepada orang lain lebih kecil.