Saran Dokter Bagi Pasien Diabetes Yang Ingin Menjalankan Ibadah Puasa

Tak lama lagi Ramadan tiba. Umat Muslim di dunia akan menjalani ibadah puasa.

Namun, ada sebagian orang dengan kondisi tertentu sebaiknya berkonsultasi ke dokter sebelum memutuskan untuk berpuasa.

Penderita diabetes misalnya. Apabila mereka berpuasa, ada kemungkinan menimbulkan komplikasi berbahaya jika tidak dilakukan dengan tepat.

Saat menjalani puasa penderita diabetes lebih berisiko untuk mengalami kenaikan atau kekurangan kadar gula darah.

Kondisi ini dapat membuat pasien diabetes rentan terkena komplikasi diabetes, seperti hipoglikemia, hiperglikemia ketoasidosis diabetik dan dehidrasi.

Pada pasien diabetes yang sudah berobat dengan baik dengan kadar gula sudah terkontrol, serta “puasanya” dilakukan dengan bagus, bukan dengan porsi makan sembarangan, sebenarnya banyak manfaat baik, seperti melatih kedisiplinan untuk mengatur pola makan.

Kemudian kadar kolesterol membaik biasanya disertai penurunan berat badan sampai 1-2 kg.

Namun perlu diwaspadai jika kadar gula darah kurang dikontrol karena akan menimbulkan beberapa faktor resiko yang akan dialami pasien diabetes ketika berpuasa.

“Risiko yang paling sering ditemui adalah gula darahnya ngedrop, biasanya muncul di waktu siang hingga sore hari atau justru kadar gulanya menjadi tinggi,” kata dr Reinaldo Alexander Sp.PD. Spesialis Penyakit Dalam dari Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya saat webinar dalam Instagram Live belum lama ini.

Baca juga :  Muhammad Thoriq Kasuba: Kami Sangat Percaya Dengan Sosok Dokter Terawan

Dikatakan Reinaldo, hal ini bisa terjadi karena adanya perubahan drastis pada pola makan. Intensitas tidur juga ikut berubah drastis, dengan waktu bangun lebih pagi dari waktu biasanya dan umumnya waktu tidur dilanjutkan pada saat siang hari.

Ini akan mempengaruhi metabolisme glukosa atau gula darah, sehingga berisiko mengalami komplikasi seperti gula darah rendah (hipoglikemia), gula darah terlalu tinggi (hiperglikemia), dan juga risiko kurang cairan atau dehidrasi.

“Jika kondisi gula darah kita tinggi, itu cenderung darah kita menjadi kental. Jadi kalau gula darahnya masih belum terkontrol itu akan timbul resiko dehidrasi,” ucapnya.

Baiknya penilaian risiko berpuasa bagi pasien Diabetes dilakukan 1-1,5 bulan sebelum menjalani puasa, agar saat menjalankan puasa gula darah bisa baik dan tidak terjadi komplikasi.

Penilaian risiko puasa bagi pasien Diabetes meliputi beberapa faktor, diantaranya adalah riwayat kontrol gula darah sebelumnya, nilai HbA1C, fungsi ginjal, sedang hamil atau tidak bagi wanita, ada riwayat komplikasi akut diabetes apa tidak dalam 3 bulan terakhir, seberapa kompleks obat-obatan atau terapi insulin yg dilakukan dan juga kepatuhan dalam memeriksa gula darah sehari-hari.

Baca juga :  Makan Enak Saat Lebaran, Bagaimana Hindari Kenaikan Berat Badan? Simak Penjelasan Dokter

Pemeriksaan yang perlu dilakukan saat akan berpuasa harus dijaga kadar gulanya dan memeriksa HbA1c, yaitu rata-rata gula darah kita dalam tiga bulan terakhir. Dan harus diperiksa fungsi ginjalnya serta melakukan rekam jantung.

Puasa itu adalah hak setiap orang. Jika pasien diabetes memeriksakan diri ke dokter maka dokter akan menilai kondisi tubuh kita, apakah berisiko ringan, sedang atau tinggi untuk berpuasa.

Itu penting mengingat ada risiko yang bisa dialami saat berpuasa pada pasien Diabetes.

Namun jika pasien diabetes yang sudah terkontrol dengan baik, track recordnya bagus, obat-obatan disiplin, juga pola makan dengan teratur. Kemudian melakukan puasa dengan benar justru akan membawa manfaat.

Karena puasa itu akan melatih kedisiplinan dan mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Kolesterol akan terjaga dengan baik, kondisi berat badan tetap stabil dan bahkan bisa meurunkann berat badan bagi yg masih overweight atau obesitas dan akan mendapatkan kontrol gula darah yang lebih baik lagi.

Untuk pasien diabetes di saat bulan Ramadan yang ingin melakukan aktivitas berolahraga sebaiknya hindari kegiatan fisik yang berat karena berisiko meningkatkan gula darah yang turun drastis.

Namun di lain sisi untuk pasien diabetes dianjurkan agar tetap melakukan aktivitas fisik sehari-hari yang memang biasa dilakukan saat bekerja di kantor seperti naik-turun tangga. Kegiatan pergi sholat Tarawih di malam hari bisa dianggap sebagai olahraga jg bagi pasien diabetes di bulan puasa.

Baca juga :  Waspadai Penyakit Mulut Dan Kuku Hewan Ternak, Presiden Minta Jajarannya Bentuk Satgas

“Pada saat sahur usahakan tubuh anda mendapatkan asupan dengan serat yang tinggi karena dapat menahan rasa lapar yang lebih lama.

Dan umumnya pada saat sahur orang tidak dapat mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak karena saat malam sebelumnya kondisi perut sudah terisi. Untuk itu fokuskan dengan asupan yang berserat tinggi misalnya sayur, gandum, kacang2an dan hindari karbohidrat simple, yaitu gula pasir, sirup, kue yang manis,” ujar dokter Reinaldo.

Terakhir adalah himbauan untuk membatalkan atau menghentikan puasa bila tubuh muncul gejala dan ketika diperiksa kadar gula di bawah 70 mg/dL atau lebih tinggi dari 300 mg/dL.