Merekam Aktivitas Otak Dan Mata Pada Seseorang Menjelang Kematian

Menjelang kematian seseorang akan melewati step-step penurunan kesadaran, sehingga saat sudah tidak sadar, pasien tidak akan bisa mengingat memori selama hidupnya yang baik atau buruk.

Hal itu disampaikan Spesialis neurologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) Dr Kurnia Kusumastuti, Sp.S(K) dalam merespons temuan pertama yang merekam aktivitas otak manusia sesaat menjelang kematian pada pasien berusia 87 tahun yang menderita epilepsi.

Menurutnya, penemuan tersebut dilakukan pada seorang pasien yang mati mendadak, dimana kesadarannya menurun secara drastis.

“Saat direkam menggunakan EEG, pasien yang menderita epilepsi terkena serangan jantung dan tidak ada darah yang mengalir ke otak. Sehingga tidak ada step-step jelang kematiannya,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (31/3/2022).

Baca juga :  Gejala Dan Penyebab Prediabetes, Cegah Dengan Konsumsi Makanan Sehat & Rajin Berolahraga

EEG adalah alat pendeteksi aktivitas gelombang listrik pada otak melalui graph atau gambar.

Dengan EEG bisa melihat fungsi otak yang ditinjau dari kelistrikannya, terdapat pola gelombang listrik normal.

“Jadi jika ada penyimpangan gelombang, tandanya ada gangguan pada fungsi otak,” tutur Dr Kurnia.

Jelang kematian sambungnya, gelombang frekuensi listrik pada otak akan melambat.

Normalnya, gelombang otak sebanyak 9-10 gelombang per detik.

Sedangkan pada orang yang kesadarannya menurun menjelang kematian hanya 2-3 gelombang dalam 1 detik.

Aktivitas listrik pada otak normal diukur dalam satuan microvolt, yaitu 70-100 microvolt.

Namun jelang kematian amplitudo otak semakin rendah yaitu kurang dari 2 microvolt.

Baca juga :  Manfaat Buah Raspberry Untuk Kesehatan: Dapat Kurangi Tanda-tanda Penuaan

“Hasil pengamatan EEG otak manusia yang normal dengan yang terkena penyakit epilepsi menunjukkan pola gelombang yang sama, yaitu lebih dari 2 microvolt dan kurang dari 10 microvolt. Namun terlihat perbedaan pola gelombang pada 1-2 jam menjelang kematian,” jelas Dr Kurnia.

Hal tersebut dapat dilihat dari gambaran gelombang yang lambat, amplitudo yang terus menerus rendah, dan aktivitas ritmis yang berulang-ulang dalam periode waktu yang sama pada pengidap epilepsi, sedangkan pada otak orang sehat akan meninggal dengan tidak adanya aktivitas ritmis, dan amplitudonya yang berangsur angsur rendah.

Selain menggunakan alat EEG, aktivitas otak manusia menjelang kematian juga dapat diketahui melalui pola napas dan ukuran pupil mata.

Baca juga :  Kenali Gejala Jantung Bawaan Pada Bayi Baru Lahir Hingga Remaja

“Pola napas dikendalikan oleh otak, pola tersebut dapat diketahui jelang kematian jika terjadi apnea, yaitu napas yang berhenti,” jelasnya.

Pola pupil mata dalam keadaan normal akan membesar saat diberi sinar, kemudian mengecil.

Apabila pupil tidak mengecil artinya fungsi saraf otaknya sudah terganggu.